MENGENAL KRIYA MACRAME (SERI 1 KRIYA MACRAME)

Macrame adalah salah satu produk kerajinan yang berasal dari keahlian merangkai tali. Macrame berarti kerajinan simpul tali, dimana dengan keahlian menyimpul tali baik dua buah tali, empat buah tali, dan sebagainya sehingga menghasilkan sebuah karya kerajinan yang selain berfungsi sebagai benda pakai juga mempunyai seni yang menarik.

Cikal bakal macrame diyakini berasal dari tradisi ikat simpul para penenun Arab sekitar abad ke-13. Perajin tenun ini mengikat kelebihan benang atau tali di tepian kain yang dijahit tangan seperti handuk, syal, atau kerudung. Deretan simpul tersebut terlihat indah. Kebiasaan ini pun berlanjut. Meski sebagian besar cerita dan penuturan menyebut Arab sebagai asal usul macrame, seni membuhul simpul kemungkinan muncul kali pertama di China pada Periode Negara Perang (481-221 SM) atau bahkan jauh ke belakang, pada masa kekuasaan Dinasti Utara (581-317 SM). Persis warga Arab, penduduk China memanfaatkan simpul indah itu untuk menghias pinggiran busana, lukisan, lentera, dan hiasan dinding.

Namun, bangsa Arablah alasan persebaran macrame di Eropa. Mereka menjelajah hampir semua benua, dari daerah kering di Timur Tengah sampai kota-kota di kawasan terdekat Asia dan Afrika.

Macrame berasal dari bahasa Spanyol. Namun, istilah ini dipercaya merupakan kata serapan dari bahasa Arab, migramah, yang bermakna pinggiran ornamen atau sulam-tepi kerudung. Masyarakat Spanyol mulai membuat macrame sejak penaklukan negeri itu oleh bangsa Moor pada abad ke-15. Perpaduan dua budaya, Moor yang melegenda dan Spanyol, membantu menyebarkan macrame di Prancis pada abad ke-16 dan dari sini, macrame dikenalkan kepada penduduk di Italia pada abad ke-17 dan 18, sebelum akhirnya menyebar ke seluruh penjuru Eropa. Teknik simpul benang ini juga sampai ke Inggris pada akhir abad ke-17. Kala itu, Ratu Mary mengajari dayang-dayangnya membuat macrame.

Adalah saudagar dan pelaut yang didapuk paling berjasa atas popularitas macrame di hampir seluruh belahan bumi. Merekalah orang-orang “pertama” yang memulai kebiasaan membuat macrame pada waktu senggang di lautan.

Macrame itu lalu dijual kepada penduduk ketika kapal mereka bersandar di daratan, termasuk China dan “Dunia Baru” alias Benua Amerika. Pelabuhan pun menjadi pintu masuk pengenalan seni macrame kepada masyarakat beda bangsa. Pada abad ke-19 pelaut Inggris dan Amerika berkreasi dengan jalinan benang bertaut simpul ini. Dari tangan mereka, lahir hammock, ikat pinggang, bahkan dudukan kursi, yang terbuat dari macrame.

Namun, teknik ini mencicipi ketenarannya pada era Victoria. Seperti tertulis dalam Sylvia’s Book of Macrame Lace (1882), “Membuat hiasan yang indah pada pinggiran busana hitam dan berwarna, baik untuk dikenakan di rumah, pesta kebun, bersantai di pantai, hingga pesta dansa membuatnya seperti peri.” Sebagian besar rumah (zaman) Victoria berhiaskan kerajinan tangan ini. Macrame bahkan digunakan untuk membuat barang-barang rumah tangga seperti taplak meja, seprai, dan gorden.

Hobi macrame sempat memudar cukup lama, sebelum kembali populer pada tahun 1970-an. Saat populer sepanjang satu dekade ini, teknik simpul benang dan tali menghasilkan beragam kriya unik seperti yang sekarang kita kenal. Yakni, gantungan dinding, ornamen pada busana, pinggiran celana jins, drapery, gantungan pot atau tanaman, dan furnishing lainnya. Dan, pada awal 1980-an, macrame kembali tenggelam.

Tak berapa lama, teknik itu kembali bangkit. Kali ini bukan karena kegandrungan pada seutas tali, melainkan emas. Abad ke-20, teknik yang sama tetap digunakan, hanya pada bahan berbeda. Macrame hadir dalam wujud kalung, gelang, dan gelang kaki. Lebih banyak dibentuk simpul persegi pada perhiasan, “macrame” kerap menjadi bingkai manik-manik, batu mulia, dan cangkang kerang.

Material untuk membuat simpul macrame pun bertumbuhan, dari benang katun, linen, rami, kulit, sampai gulungan kabel. Dan, seiring perkembangan zaman, jalinan tali tidak terpaku pada satu pakem, tapi membentuk berbagai model-termasuk mirip jaring-jaring.

Menyibukkan diri dengan merangkai seutas tali seperti para penjelajah samudra di masa silam ternyata baik untuk kesehatan. Melemaskan otot-otot tubuh sekaligus pikiran. Menurut CNN, hasil kajian The British Journal of Occupational Therapy menyebutkan, merajut atau aktivitas serupa lainnya andil mengurangi depresi. Sebanyak 81 persen dari total 3.500 lebih responden mengaku merasa bahagia setelah melakukan pekerjaan itu-lebih dari separuh di antaranya “sangat bahagia”.

Ketika tangan sibuk dan otak fokus, kita tidak akan sempat memikirkan persoalan hidup orang lain. Maka, merajut, menenun, atau bermain simpul dikatakan salah satu tips untuk membuat kita lebih tenang dan tidak cemas. Sebaliknya, aktivitas repetitif ini membuat kita semakin percaya diri. Mempelajari hal baru, kita merasa produktif dan bermanfaat. Jadi, selain menjadi wadah untuk berekspresi, teknik membuat simpul bisa kita ajarkan kepada orang lain ketika kita sudah mahir.

Membunuh kebosanan dan membuat mood seimbang, macrame bisa menyatukan orang-orang dengan hobi yang sama. Dari sini, terbentuklah komunitas baru yang saling mendukung, bahkan lintas generasi sekalipun.  (*PLS_)

Sumber : http://www.harnas.co/2018/04/01/jelajah-dunia-macrame