MENGHINDARI PENCULIKAN TERHADAP ANAK

Saat ini sering terjadi kasus penculikan anak di sekitar kita. Pelaku bisa saja mengincar anak di berbagai tempat seperti sekolah, lingkungan perumahan, pasar, mall, tempat penitipan anak, bahkan di teras rumah. Pelaku bisa menyamar menjadi siapa saja seperti pengemis, penjual, orang gila, perempuan bercadar, dan ibu hamil. Biasanya pelaku mengiming-iming anak dengan makanan atau mainan yang disukai. Jika anak menolak pelaku bisa bertindak kasar. Seperti kasus seorang anak yang hampir di culik ketika sedang bermain sendiri di teras rumahnya. Mulanya ia ditawari permen oleh pelaku, namun si anak menolak karena tidak mengenal pelaku. Tidak terima ditolak pelaku berlaku kasar dengan membentak dan menarik tangan si anak. Beruntuk si ibu yang berada di dalam rumah mendengar teriakan anaknya dan segera keluar. Melihat si ibu pelaku melepas si anak dan berpura-pura seperti orang gila.

Dari berbagai kasus penculikan yang terjadi tersebut, kalau diamati, ternyata yang menjadi korbannya seringkali adalah anak-anak usia balita. Beberapa hal yang bisa menjadi penyebabnya adalah karena sifat dasar mereka yang pada umumnya tidak memiliki prasangka buruk, mudah dibujuk atau dimanipulasi, serta masih memiliki banyak keterbatasan dalam hal kekuatan fisik, logika berfikir dan keberanian.

Kalau diteliti lebih lanjut, ternyata ada berbagai motif yang bisa melatarbelakangi terjadi penculikan ini, misalnya motif ekonomi, perebutan hak asuh anak, kelainan prilaku, balas dendam, sosial, politik, dan lain sebagainya.

Akibat kerugian yang bisa dialami oleh korban maupun keluarganya dari musibah ini bisa bermacam-macam, seperti kehilangan materi, gangguan fisik, gangguan psikologis sampai kehilangan nyawa salah satu anggota keluarga. Bayangkan bagaimana sedihnya hati orangtua yang anaknya menjadi korban penculikan, bila ternyata pada saat ditemukan, anak dalam keadaan cacat, stress, depresi, trauma atau bahkan dalam keadaan sudah tak bernyawa.

Dengan melihat banyaknya akibat kerugian dari adanya musibah ini, maka alangkah pentingnya untuk mengusahakan cara-cara yang dapat menghindarkan anak menjadi korban penculikan tersebut.

Berikut ini ada beberapa tips yang dapat dijadikan masukan untuk dapat menghindari terjadinya penculikan anak :

  1. Jelaskan pada anak pentingnya sikap waspada terhadap orang lain terutama kepada orang yang belum dikenal karena ada kemungkinan mereka mempunyai niat buruk. Sikap waspada ini misalnya dapat diajarkan kepada anak dengan cara menolak diajak pergi atau menolak hadiah apapun dari orang lain bila belum mendapat ijin dari orangtua, tidak sembarangan mempersilahkan orang asing masuk ke dalam rumah, tidak bepergian keluar rumah sendiri tanpa ditemani orang dewasa yang bisa bertanggung jawab akan keselamatannya.
  2. Bila ingin mengajak anak pergi ke tempat ramai, ajari anak untuk tidak memisahkan diri dari orangtua atau pengasuh dan bekali anak dengan pengetahuan tentang lokasi petugas bagian informasi atau satpam, nama dan nomor telpon orangtua serta cara mudah menemukan kembali orangtua bila ia tersesat.
  3. Bekali anak dengan teknik dasar ketrampilan bela diri agar bisa melepaskan diri dengan segera dari sekapan penculik. Beri simulasi penculikan agar anak bisa mengetahui tindakan apa yang harus dilakukannya bila ada orang yang berusaha dengan paksa mau menculiknya. Misalnya dengan berteriak minta tolong, segera lari ke satpam atau berusaha menarik perhatian orang sekitarnya.
  4. Orangtua perlu bekerjasama dengan pihak sekolah untuk bersama-sama mencegah terjadinya penculikan. Misalnya dengan menciptakan sistem dimana pihak sekolah hanya memperbolehkan anak meninggalkan sekolah bila sudah dijemput oleh orang yang identitasnya sesuai dengan yang diberikan oleh orangtua atau anak sudah dijemput oleh mobil jemputan sekolahnya.
  5. Orangtua harus memilih secara cermat orang-orang yang dipekerjakan dirumah, terutama pengasuh dan supir. Misalnya dengan melakukan pengecekan terhadap identitas dan kredibilitas mereka kepada penyalur tempat kita mengambil mereka atau kepada majikan tempat mereka bekerja sebelumnya. Jangan sembarangan menyuruh orang lain yang belum dipercaya untuk menjemput anak di sekolah. Usahakan orangtua dapat mengantar jemput sendiri bila tidak ada orang lain yang dapat dipercaya.
  6. Orangtua perlu menceritakan pada anak, bila ada ada orang-orang yang dicurigai memiliki potensi balas dendam, pernah konflik atau bersaing bisnis dengan orangtua agar anak bisa berhati-hati atau menjauh bila bertemu dengan orang tersebut.
  7. Biasakan anak untuk tidak sembarangan memberikan informasi mengenai keluarga, seperti kebiasaan-kebiasaan atau jadwal orangtua, nomor telfon dan alamat rumah kepada orang asing yang bertanya kepadanya baik secara langsung atau melalui telfon. Karena informasi-informasi ini dikhawatirkan akan disalahgunakan untuk niat jahat seseorang.
  8. Sesibuk apapun orangtua, usahakan untuk tetap melakukan pengawasan dan komunikasi dengan anak. Misalnya dengan menelpon anak atau menyediakan waktu untuk mendengar cerita anak mengenai kejadian-kejadian yang dialaminya sepanjang hari itu. Hal ini diperlukan agar orangtua bisa mengantisipasi kemungkinan ada orang yang berniat jahat pada anak.

Disamping usaha-usaha tersebut di atas, satu hal yang juga sangat penting untuk kita lakukan adalah berdoa pada yang Maha Kuasa agar semua sanak keluarga kita terhindar dari penculikan atau musibah-musibah lainnya. Karena sehebat apapun usaha yang kita lakukan, pasti tidak akan berhasil bila kita tidak mendapat restu dari-Nya. Semoga Tuhan selalu memberi keselamatan pada kita semua, Aamiin. (*PLS_)

Referensi : https://www.sahabatnestle.co.id/content/gaya-hidup-sehat/tips-parenting/tips-menghindari-penculikan-anak.html

img : indtimes.com